Rabu, 02 September 2009

viking

Viking

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Kapal Viking

Viking adalah suku bangsa dari Skandinavia yang berprofesi sebagai pedagang, peladang, dan paling terkenal sebagai perompak (seringkali setelah gagal berniaga) yang di antara tahun 800 dan 1050 menjarah, menduduki dan berdagang sepanjang pesisir, sungai dan pulau di Eropa[1] dan pesisir timur laut Amerika Utara, serta bagian timur Eropa sampai ke Rusia dan Konstantinopel. Mereka memanggil diri mereka sebagai Norsemen (orang utara), sedangkan sumber-sumber utama Russia dan Bizantium menyebut mereka dengan nama Varangian.[2] Sampai sekarang orang Skandinavia modern masih merujuk kepada diri mereka sebagai nordbor (penduduk utara).

Leif Eriksson, yang dalam saga Islandia dikatakan keturunan para pemimpin Viking Norwegia yang mendirikan perkampungan Eropa pertama di Greenland sekitar tahun 985, kemungkinan besar adalah orang Eropa pertama yang menemukan Amerika sekitar tahun 1000.[3] Perkampungan yang didirikannya kemungkinan besar adalah di L'Anse aux Meadows, yaitu di Newfoundland dan Labrador, Kanada.

Istilah Abad Viking telah dipakai untuk menyebut periode sejarah Skandinavia dari tahu 800 sampai 1066, yaitu sampai pada kematian dari Harald III Sigurdsson.[4][5][6]

Sebutan Viking secara luas dapat pula digunakan untuk menyebut seluruh populasi Skandinavia di Abad Viking beserta perkampungan-perkampungan sebarannya. Sebagai contoh, para pedagang dan perompak di masa tersebut yang berasal dari pantai timur Laut Baltik dalam saga Islandia mula-mula disebut sebagai Vikinger fra Estland, atau dalam bahasa Norwegia ialah Viking Estonia.[7][8][9][10]

Penjelajahan Viking semakin berkurang dan akhirnya berhenti selama proses Kristenisasi Skandinavia yang berlangsung secara bertahap.

[sunting] Referensi

Selasa, 01 September 2009

BBF

Dikutip dari Tabloid Bintang Indonesia Edisi 953 [online : 12 Agustus 2009] – Sejak Boys Before Flowers mengguncang Asia, banyak yang sibuk membandingkan dengan serial dari adaptasi komik yang sama, Meteor Gaden dan Hana Yori Dango. Yang berusaha obyektif biasanya menyimpulkan, BBF versi lengkap MG dan HYD. Kisahnya lebih berbunga-bunga, kena di hati pemirsa, dan bersahabat. Dari segi fashion begitu berwarna, flamboyan, dan sangat adibusana. Dari segi tampang pemain pun dianggap menarik. Tapi kalau Anda rajin melihat forum-forum penggemar di internet, harus diakui tiap serial punya penggemar masing-masing. Penggemar Meteor Garden bilang tak akan ada yang bisa menandingi popularitas Jerry Yan yang sampai sekarang memang masih jadi nomor satu di kawasan Asia Timur. Plus memajukan chemistry Hua Ce Lei – San Chai yang begitu mendalam dan membekas di hati.

Hana Yori Dango pun bagi penggemarnya punya banyak keunggulan. Dari segi pengambilan sudut gambar dianggap paling artistik. Karakter pemain yang kuat, disebut-sebut paling mendekati karakter tokoh-tokoh di komiknya. Tapi kami tidak mau berpihak dan terbawa arus debat. Kami memunculkan serial se-versi beda negara MG-HYD-BBF karena tahu ada banyak sekali yang menonton semuanya dan jatuh cinta pada ketiga-tiganya. Sebagai penonton ketiga serial tersebut, kami justru ingin menunjukkan sisi menarik dan keunggulan masing-masing. Berdasarkan pengalaman, sejak menyaksikan BBF sukses besar, banyak juga yang tergelitik menonton Meteor Garden dan Hana Yori Dango lagi. Ada juga yang sebaliknya, berusaha tak mau menghilangkan memori manis akan Tao Ming Se dkk.

Tapi akhirnya tergoda menonton BBF dan suka. Hana Yori Dango pun punya penggemar fanatik. Kalau dibanding-bandingkan, semuanya menarik dan punya ciri khas. Sekali lagi, edisi ini apresiasi kami pada permintaan pembaca untuk menyandingkan ketiganya dalam satu edisi. Mudah-mudahan kehadiran kembali Jerry Yan dkk, eksplorasi kiprah Matsumoto Jun dkk, serta kemunculan sekali lagi Lee Min Hoo dkk dalam bentuk cerita dan parade foto dalam satu edisi yang sama, bisa memuaskan Anda. Selamat menikmati.

Senin, 01 Desember 2008

Francis

Related names in other languages

Related names are common in other Western European languages, in countries that are (or were before the Reformation) Catholic. These names include:

[edit] Derivation

Francesco was the name given to Saint Francis of Assisi (baptized Giovanni) by his francophile father, celebrating his trade with French merchants, though possibly in memory of the boy's mother, a Frenchwoman, who died when the boy was still in his early years.[citation needed] It means 'Little Frenchman'. The name of France itself comes from the Germanic people known as the Franks; the origin of their name is unclear but is thought to mean "free". The characteristic national weapon of the Franks was the francisca, throwing axe.

Selasa, 09 November 2004

Boaz Solossa (born in West Papua) is an Indonesian footballer. His brother, Ortizan, is also a footballer. Boaz plays at Persipura while Ortizan plays at Persija. They met in a match at the 2005 Liga Indonesia final, where Persipura beat Persija 3-2.

Boaz was born in the Solossa family, a well-known family in the province of West Papua. His uncle, Jaap Solossa, was the governor of Papua before he died last year. Boaz was born in a footballing family as well, being the youngest of five children. Almost all of them were professionals, including his brother Ortizan and Nehemia Solossa.

Boaz is considered to be a bright prospect in Indonesian football after performing brilliantly in the 2004 Tiger Cup, where Indonesia was defeated by Singapore in a home and away match, which resulted in an aggregate score of 5-2 to Singapore. In the group phase, Boaz managed to score 4 goals and along with Ilham Jayakesuma, who scored 5 goals, both led the top scorers chart. He is well-known for his two-footedness, born as a left-footed but is equally dangerous with his right.

Nevertheless, Boaz was unable to perform for Persipura for almost 6 months due to an incident where he and his Persipura teammates assaulted a referee officiating one of Persipura matches in the 2004-2005 season. During the time he was out of action, many considered his skills to drop and his prospect wasted. This resulted in the Indonesian national team manager Peter Withe crossing his name off the team list from the national team in 2006. He also has a bad reputation due to his alcoholism, which also contributed to his decline in form over the past year although Boaz stated that he is trying his best to quit and gain back his place in the Indonesian national team.